Aku tak tau ini harus dimulai dari mana. Aku hanya
sedang gabut saat ini. Perasaan yang tak
menentu. Baiklah kali ini aku ingin bercerita mengenai mimpiku saja yaaaaa.
Setiap manusia pasti
punya mimpi kan. Kalian sudah melihat slide di blog ini kan? Harvard medical
school salah satu universitas dengan fakultas kedokteran terbaik di dunia, ya
aku ingin menjadi dokter. Cita cita yang klasik mungkin ya, hampir semua anak
di dunia ini saat ditanya apa cita citanya pasti menjawab dokter. Begitu pun
denganku, dari kecil aku ingin menjadi dokter, tak tau apa alasannya, hanya
saja setiap ditanya orang apa cita citaku, orang tuaku selalu menjawab ‘dokter’.
Pernah aku bertanya apa benar menjadi dokter adalah keinginanku? Apa benar itu
adalah mimpiku? Pernah terpikir dalam benakku mengapa orang tuaku tak pernah
memberi option lain bagi masa depanku. Memang tak pernah ada yang memaksa, tapi
secara tidak langsung ini seperti doktrin yang membayangiku sejak aku kecil. Tapi
tak apa, karena aku pun memang ingin menjadi dokter walaupun aku tak tau apa
alasannya, ya aku berhasil terkena doktrin itu.
Waktu terus bergulir,
aku beranjak remaja, dan semua tak terasa sama. Hal yang dulu aku terima
walaupun tak ada alasannya kini tak dapat aku terima. Aku merasa semua hal
dapat dan akan terjadi karna suatu alasan. Hatiku mulai goyah akan semua ini,
disamping itu aku pun mulai menyukai dunia baruku yang berkaitan dengan
teknologi. Semuanya mulai abu abu saat aku menginjak bangku Sekolah Menengah
Atas. Ini masa transisiku dan aku harus menemukan jati diriku untuk masa
depanku.
Saat pertama kali aku
masuk SMA, aku tertarik dengan teknologi, karna itu pula aku ikut ekskul IT. Ya
walaupun saat itu bahkan sampai sekarang aku tak ‘jago’ dalam pemanfaatan
teknologi informasi, tapi aku mau belajar. Aku pun menemukan kesenangan baru
dalam hidupku, aku ingin belajar membuat film. Semuanya berawal dari kakak-kakak
kelasku yang membuat komunitas film, dan kurasa itu sangat menarik. Aku pun
mulai belajar dan menekuninya, dalam hal ini kakak-kakak kelasku itu sangat
membantu dan memberikan ilmu yang sangat bermanfaat untukku. Tapi semua tak
berlangsung lama, saat kakak-kakak ku itu mulai sibuk dengan urusannya masing
masing, dan kemudian akhirnya lulus, semangatku untuk menjadi seorang filmmaker
menurun.
Hari hari terus berlalu
sampai aku lupa dengan mimpiku. Hingga pada
saatnya aku diharuskan memilih jurusan, IPA atau IPS? Ini harus disesuaikan
dengan minatku ingin melanjutkan kuliah dengan prodi apa tentunya. Aku ingin
menjadi dokter tapi aku tak tau apa alasannya, dan disisi lain aku tak ingin
menjalani sesuatu yang tak pasti yang aku sendiri tak punya niat untuk itu. Aku
merasa menjadi dokter bukan keinginanku, itu keinginan orang tuaku. Aku berdiskusi
dengan orang tuaku mengenai hal ini, sempat terpikir untuk memilih IPS karna
entah kenapa aku ingin kuliah di Hubungan Internasional, tapi kalian tau kan apa
jawabannya? Untuk kuliah di kedokteran lebih baik memilih IPA saja. Akhirnya
aku memilih IPA, selain karna orang tuaku, hasil psikotesku juga memilih IPA
sebagai jurusan yang cocok untukku.
Semakin hari aku
semakin dewasa dan aku merasa berhak atas keputusanku sendiri. Aku sudah
menuruti orangtuaku dengan masuk SMA ini sekarang, dulu aku ingin ke SMA lain
tapi Allah tak menghendakinya. Kali ini aku merasa aku juga ingin membuat
keputusan, karna kuliah itu bukan hal sembarangan, yang akan menjalaninya kan
diriku sendiri. Aku memutuskan untuk mundur dari kedokteran dan beralih STEI
ITB atau teknik informatika. Tapi hal itu hanya kusimpan dalam hati saja,
sampai akhirnya aku berani untuk mengungkapkan keinginanku. Dan setelah
didiskusikan, orangtuaku tetap saja ingin anaknya menjadi dokter. Apa kalian
tau galaunya aku saat itu? Aku hanya bisa
diam saat orang tuaku berbicara, tapi setelah itu, dikamar, tangisanku yang
tertahan semenjak tadi tumpah. Aku tak bisa menahannya, tp aku itu bukan orang
yang mudah menyerah, aku diam karna aku memikirkan cara lain agar apa yang aku
ingin dapat terealisasi.
Aku terus mencari dan
memantapkan hatiku tentang apa yang aku inginkan. Tapi mengapa semuanya terasa
semakin rumit. Melihat begitu inginnya orangtuaku melihat anaknya menjadi
seorang dokter aku terenyuh. Tapi aku tak ingin menjalani sesuatu yang
terpaksa. Aku ingin menjalaninya ya karena aku yang menginginkannya, tanpa
paksaan dari siapapun atau bahkan demi menyenangkan orang tuaku sendiri. Aku
ingin hatiku yang memilih. Aku bingung, sampai suatu hari aku down, bukan karna
hal ini, tapi hal lain, masalah sepele anak remaja seusiaku tapi itu seolah
terasa berat kala itu. Akan tetapi hal itu menjadi titik balik bagiku. Aku
merasa ada di titik terendah dan aku ingin memulai semua dari awal, memperbaiki
diri.
Aku mulai melihat
sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Dan pada akhirnya
hatiku memilih menjadi seorang dokter. Ya aku menemukan alasannya. Jika kau tanya
bagaimana prosesnya sehingga aku dapat yakin seperti ini, akan aku coba
jelaskan di part selanjutnya, seeya J


0 komentar:
Posting Komentar