Jumat, 03 April 2015

Mimpi (PART I)


Aku tak  tau ini harus dimulai dari mana. Aku hanya sedang  gabut saat ini. Perasaan yang tak menentu. Baiklah kali ini aku ingin bercerita mengenai mimpiku saja yaaaaa.
Setiap manusia pasti punya mimpi kan. Kalian sudah melihat slide di blog ini kan? Harvard medical school salah satu universitas dengan fakultas kedokteran terbaik di dunia, ya aku ingin menjadi dokter. Cita cita yang klasik mungkin ya, hampir semua anak di dunia ini saat ditanya apa cita citanya pasti menjawab dokter. Begitu pun denganku, dari kecil aku ingin menjadi dokter, tak tau apa alasannya, hanya saja setiap ditanya orang apa cita citaku, orang tuaku selalu menjawab ‘dokter’. Pernah aku bertanya apa benar menjadi dokter adalah keinginanku? Apa benar itu adalah mimpiku? Pernah terpikir dalam benakku mengapa orang tuaku tak pernah memberi option lain bagi masa depanku. Memang tak pernah ada yang memaksa, tapi secara tidak langsung ini seperti doktrin yang membayangiku sejak aku kecil. Tapi tak apa, karena aku pun memang ingin menjadi dokter walaupun aku tak tau apa alasannya, ya aku berhasil terkena doktrin itu.
Waktu terus bergulir, aku beranjak remaja, dan semua tak terasa sama. Hal yang dulu aku terima walaupun tak ada alasannya kini tak dapat aku terima. Aku merasa semua hal dapat dan akan terjadi karna suatu alasan. Hatiku mulai goyah akan semua ini, disamping itu aku pun mulai menyukai dunia baruku yang berkaitan dengan teknologi. Semuanya mulai abu abu saat aku menginjak bangku Sekolah Menengah Atas. Ini masa transisiku dan aku harus menemukan jati diriku untuk masa depanku.
Saat pertama kali aku masuk SMA, aku tertarik dengan teknologi, karna itu pula aku ikut ekskul IT. Ya walaupun saat itu bahkan sampai sekarang aku tak ‘jago’ dalam pemanfaatan teknologi informasi, tapi aku mau belajar. Aku pun menemukan kesenangan baru dalam hidupku, aku ingin belajar membuat film. Semuanya berawal dari kakak-kakak kelasku yang membuat komunitas film, dan kurasa itu sangat menarik. Aku pun mulai belajar dan menekuninya, dalam hal ini kakak-kakak kelasku itu sangat membantu dan memberikan ilmu yang sangat bermanfaat untukku. Tapi semua tak berlangsung lama, saat kakak-kakak ku itu mulai sibuk dengan urusannya masing masing, dan kemudian akhirnya lulus, semangatku untuk menjadi seorang filmmaker menurun.  
Hari hari terus berlalu sampai aku lupa dengan mimpiku.  Hingga pada saatnya aku diharuskan memilih jurusan, IPA atau IPS? Ini harus disesuaikan dengan minatku ingin melanjutkan kuliah dengan prodi apa tentunya. Aku ingin menjadi dokter tapi aku tak tau apa alasannya, dan disisi lain aku tak ingin menjalani sesuatu yang tak pasti yang aku sendiri tak punya niat untuk itu. Aku merasa menjadi dokter bukan keinginanku, itu keinginan orang tuaku. Aku berdiskusi dengan orang tuaku mengenai hal ini, sempat terpikir untuk memilih IPS karna entah kenapa aku ingin kuliah di Hubungan Internasional, tapi kalian tau kan apa jawabannya? Untuk kuliah di kedokteran lebih baik memilih IPA saja. Akhirnya aku memilih IPA, selain karna orang tuaku, hasil psikotesku juga memilih IPA sebagai jurusan yang cocok untukku.
Semakin hari aku semakin dewasa dan aku merasa berhak atas keputusanku sendiri. Aku sudah menuruti orangtuaku dengan masuk SMA ini sekarang, dulu aku ingin ke SMA lain tapi Allah tak menghendakinya. Kali ini aku merasa aku juga ingin membuat keputusan, karna kuliah itu bukan hal sembarangan, yang akan menjalaninya kan diriku sendiri. Aku memutuskan untuk mundur dari kedokteran dan beralih STEI ITB atau teknik informatika. Tapi hal itu hanya kusimpan dalam hati saja, sampai akhirnya aku berani untuk mengungkapkan keinginanku. Dan setelah didiskusikan, orangtuaku tetap saja ingin anaknya menjadi dokter. Apa kalian tau galaunya aku saat itu? Aku  hanya bisa diam saat orang tuaku berbicara, tapi setelah itu, dikamar, tangisanku yang tertahan semenjak tadi tumpah. Aku tak bisa menahannya, tp aku itu bukan orang yang mudah menyerah, aku diam karna aku memikirkan cara lain agar apa yang aku ingin dapat terealisasi.
Aku terus mencari dan memantapkan hatiku tentang apa yang aku inginkan. Tapi mengapa semuanya terasa semakin rumit. Melihat begitu inginnya orangtuaku melihat anaknya menjadi seorang dokter aku terenyuh. Tapi aku tak ingin menjalani sesuatu yang terpaksa. Aku ingin menjalaninya ya karena aku yang menginginkannya, tanpa paksaan dari siapapun atau bahkan demi menyenangkan orang tuaku sendiri. Aku ingin hatiku yang memilih. Aku bingung, sampai suatu hari aku down, bukan karna hal ini, tapi hal lain, masalah sepele anak remaja seusiaku tapi itu seolah terasa berat kala itu. Akan tetapi hal itu menjadi titik balik bagiku. Aku merasa ada di titik terendah dan aku ingin memulai semua dari awal, memperbaiki diri.
Aku mulai melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Dan pada akhirnya hatiku memilih menjadi seorang dokter. Ya aku menemukan alasannya. Jika kau tanya bagaimana prosesnya sehingga aku dapat yakin seperti ini, akan aku coba jelaskan di part selanjutnya, seeya J

0 komentar:

Posting Komentar